SEJARAH PERIKLANAN DI INDONESIA
Sejarah Periklanan di Indonesia
Tokoh
periklanan pertama di Indonesia adalah Jan Pieterzoon Coen, orang Belanda yang
menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1619-1629. Tokoh ini bukan
hanya bertindak sebagai pemrakarsa iklan pertama di Indonesia, tetapi juga
sebagai pengiklan dan perusahaan periklanan. Bahkan dia pun menjadi penerbit
dari Bataviasche Nouvelle, suratkabar pertama di Indonesia yang terbit tahun
1744.
Iklan
pertama yang diprakarsainya berupa pengumuman-pengumuman pemerintah Hindia
Belanda berkaitan dengan perpindahan pejabat terasnya di beberapa wilayah.
Namun dengan penerbitan suratkabar pertama yang memuat iklan itu, Jan
Pieterzoon Coen membuktikan, bahwa pada hakekatnya untuk produk-produk baru,
antara berita dan iklan tidak ada bedanya. Atau, bahwa berita pun dapat
disampaikan dengan metode dan teknik periklanan. Kenyataan itu membuktikan
pula, bahwa iklan dan penerbitan pers di Indonesia, sebenarnya lahir tepat
bersamaan waktunya, dan keduanya saling membutuhkan atau memiliki saling
ketergantungan.
Di
luar Batavia, tercatat 6 suratkabar yang terbit di Surabaya dan satu di Jawa
Tengah. Ini pun semuanya dimiliki dan dikelola oleh orang-orang Eropa. Pada
perusahaan-perusahaan periklanan milik orang-orang Eropa itu, memang banyak
juga dipekerjakan orang-orang Cina atau pribumi. Tetapi dua kelompok terakhir
ini hanya sebagai copywriter (penulis naskah) untuk perusahaan periklanannya,
atau tenaga keredaksian di penerbitan pers mereka. Setelah orang-orang Eropa,
orang-orang Cina atau keturunan Cina menjadi kelompok yang paling dominan
menguasai periklanan. Sedangkan kelompok pribumi umumnya tidak memiliki sendiri
percetakan atau penerbitan pers, ataupun hanya mengelola perusahaan-perusahaan
periklanan yang relatif kecil.
Pada
tahun 1901 salah satu dari anggota tiga-serangkai ini, Bemmel, diminta oleh
redaktur suratkabar De Locomotief untuk mengelola perusahaan periklanan milik
suratkabar tersebut, yang juga bernama De Locomotief. Suratkabar De Locomotief
sendiri terbit sejak tahin 1870 di Semarang. Tahun 1902, hanya satu tahun sejak
kedatangannya ke Batavia, Bemmel hengkang untuk mendirikan perusahaan
periklanan sendiri. Perusahaan periklanan ini diberinya nama NV Overzeesche
Handelsvereeniging. Perusahaan periklanan ini utamanya menangani produk-produk
impor, seperti mobil dan sepeda.
Orang
pribumi yang memiliki percetakan dan suratkabar, baru pada tahun 1906 dengan
munculnya NV Medan Prijaji. Tiras suratkabar yang dipimpin oleh RM Tirto
Adisoerjo ini utamanya beredar di Batavia, Bogor dan Bandung. Suratkabar ini
sebenarnya punya misi politik, karena banyak memuat berita-berita tentang
kebobrokan sistem kolonial. Dia sekaligus memberi juga perlindungan hukum bagi
kaum pribumi. Namun untuk menjaga kelangsungan hidupnya, ia memerlukan juga
perusahaan periklanan. Orang yang mengelola perusahaan periklanan Medan Prijaji
adalah Raden Goenawan. Raden Goenawan, lulusan HIS (Holland Inlandsche School),
Batavia, menjadi teman dekat Tirto Adisoerjo sejak di sekolah itu. Selain dalam
jabatan tersebut, Adisoerjo dan Raden Goenawan juga merangkap bersama-sama
menangani bidang percetakan Medan Prijaji. Suratkabar ini mereka beri nama kecil
Surat Kabar Minggoean dan Advertentie. Raden Goenawan juga pernah bekerja di
perusahaan periklanan NV Soesman’s yang berkedudukan di Batavia. NV Soesman’s
banyak mengiklankan penyediaan tenaga kerja pendatang dari Jawa ke Sumatera
Timur. Raden Goenawan mengelola perusahaan periklanan Medan Prijaji sejak
berdirinya tahun 1906. Meskipun hanya mampu bertahan hingga tahun 1912, Medan
Prijaji tercatat memperoleh keuntungan sebesar f.75.000 pada tahun terakhir
hidupnya.
Muhammad
Napis. Tokoh ini adalah Ketua PBRI (Persatuan Biro Reklame Indonesia) sejak
1956 hingga 1972. Dia memegang jabatan tersebut untuk melanjutkan tugas yang
sejak tahun 1949 masih dijabat oleh orang Belanda. Selain sebagai aktivis
asosiasi, dia juga adalah praktisi sejati. Pada tahun 1952, di usia 27 tahun,
dia sudah mendirikan perusahaan periklanan CV Bhinneka Advertising Services,
sekaligus memegang jabatan Direktur Utama hingga tahun 1972. Situasi makro saat
itu memaksanya untuk menutup “firma” ini. Sebagai gantinya dia mendirikan
sebuah perseroan terbatas yang diberinya nama Advertising Inter Media (AIM),
dan tetap sebagai Direktur Utama hingga tahun 1978.
Seperti
juga kebanyakan tokoh periklanan lama, dia juga tidak mempunyai pendidikan
formal di bidang periklanan. Meskipun demikian dia sempat memperoleh kursus
periklanan dari Stichting voor Reclame (yayasan periklanan) Jakarta tahun 1956
dan mengikuti program pendidikan tertulis Marketing and Advertising dari
Alexander Hamilton Institue, New York, tahun 1971. Hingga sekarang, tokoh yang lahir
tanggal 7 Juli 1925 ini masih memegang beberapa jabatan penting di dalam
asosiasi masyarakat periklanan. Antara lain, Direktur Eksekutif PPPI (Persatuan
Perusahaan Periklanan Indonesia), tahun 1980-1983; General Manager BPPP (Badan
Penyalur dan Pemerataan Periklanan) Pusat, sejak 1981; Sekretaris Tetap Komisi
Tata-Krama dan Tata-Cara Periklanan Indonesia, sejak 1981; dan Ketua Pelaksana
Harian Badan pengawas Tata-Krama dan Tata-Cara Periklanan PPPI, sejak 1992.
Komentar
Posting Komentar